oma :) |
Hanya gambaran kecil tentang dunia yang tertangkap oleh mata manusia |
Lovely bday cupcake. Thank you @haryanayaka and Mbak Nisa :*
Teronggok dan mati
#doraemon dan kotak ajaib
Ini rumah coklatku, mana rumah coklatmu?
sweet surprise :’)
Sesekali saya kepingin ngegalau. Iyah, kaya orang-orang yang ngegalau tentang keseharian mereka di dunia maya. Entah itu ngetweet, bikin status fb, atau nulis di blog. Sayangnya, setiap kali saya mau ngegalau, saya malah mikir panjang bin aneh-aneh. Salah satu contohnya, saya memikirkan perasaan anak saya yang mungkin suatu hari nanti nyari tau emaknya kaya apa. “Ih, emak gue galau banget sih! Masalah kaya gitu doang diumbar-umbar di internet, masa ga ngerasa malu?” mungkin begitu pemikiran anak saya. Tapi mungkin juga, suatu hari nanti dia malah bilang “Gue ngerasa makin kenal sama emak gue lewat cerita kesehariannya.”
“Adeuh, mau ngegalau kok repot. Ya udah sih sebodo amat.”, mungkin begitu yang dipikirkan teman-teman saya. Err, ga bisa sebodo amat juga karena pada akhirnya saya tetep kepikiran, atau lebih tepatnya saya takut dianggap aneh-aneh. Yeap, karena pencitraan segalanya, di jaman yang serba edan ini. Apalagi pencitraan publik di dunia maya.
Maklum, zaman sudah berubah, generasi pun sudah berbeda, dan sekarang adalah era digital. Bahkan ngucapin selamat ulang tahun pun katanya ga afdol kalau ga diucapin di twitter, padahal udah ngasih supres. Aneh kan? Iya lah, karena sekarang cerita itu selalu punya empat sisi, sisi saya, sisi kamu, sisi Tuhan, dan sisi dunia maya (pilih deh, mau twitter, blog, atau status fb).
Hadeuh, saya kok sore-sore malah ceracau ga jelas gini. Yuk, beresin kerjaan terus pulang cepet, biar bisa ngegaul.
Just because I am busy, doesn’t mean I don’t love you #danbo
Dengan penuh semangat, aku berlari menuruni lembah dan berubah wujud dari kabut menjadi embun. Tak sabar bertemu dengan pujaan hatiku, matahari.
“Aku merasakan kedamaian di setiap detiknya saat berjumpa dengan kamu.” kata matahari dengan tatapan sedih. “Tapi kamu akan segera pergi karena sinarku.”
Aku tersipu malu mendengar ucapan matahari. “Aku akan kembali lagi esok pagi. Kita akan bertemu lagi dan memadu kasih, walaupun hanya sesaat.”